Teknologi

Apa yang Harus Diwaspadai Jika Tak Ingin Penyakit Tifus Mampir?

Setiap mendengar teman atau keluarga yang terserang Tifus, bayangan kita akan penyebabnya berkisar tentang cara makan yang tidak bersih atau fisik yang lelah. Dan memang benar adanya. Tifus yang dalam istilah kedokteran dikenal dengan “Demam Tifoid” adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman “Salmonella typhii”.

Kuman ini senang berkembang biak di tempat kotor tidak peduli daerah perkotaan atau pedesaan. Itulah kenapa, seseorang yang tidak menjaga kebersihan pribadi seperti sering jajan sembarangan dan menggunakan air yang tercemar lebih mudah terserang penyakit Tifus.

Salmonella Typhii menyerang daerah saluran pencernaan terutama usus halus dengan gejala suhu badan terus meningkat dengan suhu tertinggi mencapai 40.5 oC, sakit kepala, nyeri otot, nafsu makan menurun, diare, dan muntah-muntah.
Penyakit Tifus sebaiknya ditangani secara cepat untuk menghindari timbulnya komplikasi seperti perdarahan dan perforasi (kebocoran) usus. 

Lalu bagaimana cara mengetahui dengan cepat penyakit Tifus atau bukan? Saat demam semakin tinggi, lakukan cek darah di laboratorium untuk memastikan keberadaan kuman tifoid. Sampel darah akan diperiksa peningkatan titer antibodi terkait tifoid (tes Widal atau dengan tes Tubex).

Lalu bagaimana penyembuhannya?
  1. Di awal-awal gejala, cobalah minum obat penurun panas seperti parasetamol.  Pada anak dapat diberikan kompres dengan air hangat di daerah lipat ketiak dan pangkal paha selama 15 menit.
  2. Jika demam semakin tinggi di hari kedua atau ketiga, segeralah bawa ke dokter untuk mendapatkan antibiotik.
  3. Istirahat penuh selama waktu yang dianjurkan
  4. Konsumsi makanan lunak yang tinggi kalori dan tinggi protein.
  5. Jangan lupa minum sesering mungkin agar tidak dehidrasi.
 
Di seluruh dunia, demam tifoid mempengaruhi lebih dari 21 juta orang per tahun dengan sekitar 200 ribu orang meninggal akibat penyakit tersebut. Sedangkan di Indonesia, kejadian tifoid adalah 300–800 orang per 100 ribu penduduk dengan presentase 64% terjadi pada usia 3-19 tahun.

Di Indonesia, vaksin tifoid sebagai pencegahan tifus sudah tersedia dan menjadi imunisasi yang dianjurkan oleh pemerintah dan direkomendasikan oleh Satuan Tugas Imunisasi PP IDAI (Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia). Vaksin tifoid diberikan kepada anak yang berusia di atas dua tahun dan diulang tiap tiga tahun. Imunisasi Tifoid di Indonesia dilakukan dalam bentuk suntik pada balita dan dalam bentuk oral pada anak yang berusia di atas enam tahun.

Anak yang sudah diimunisasi tifoid tetap dapat terinfeksi, namun tingkat infeksi yang dialami anak yang sudah divaksin tidak akan seberat mereka yang belum divaksin sama sekali.

Pencegahan yang utama adalah dengan menjaga kebersihan dengan membatasi kebiasaan jajan sembarangan. Pada saat di rumah dianjurkan memasak air sampai mendidih selama 15 menit agar kuman di dalamnya mati. Selain itu, budayakan kebiasaan mencuci tangan setelah beraktivitas dan sebelum makan agar tidak terkontaminasi dengan kuman Salmonella.
 
Salmonella Typhii dan Salmonella Paratyphii, serupa tapi tak sama

Kita tentu juga sering mendengar istilah paratipus, atau paratifoid. Para-typhoid disebabkan oleh kuman Salmonella paratyphii dan umumnya gejalanya lebih ringan. Infeksi paratifoid cenderung tidak lebih berbahaya dibandingkan tifoid dan respon terhadap pengobatan pada infeksi paratifoid umumnya juga lebih cepat dibandingkan dengan tifoid.

Sumber :
mediskus.com
www.kompasiana.com
hellosehat.com
www.alodokter.com
www.idai.or.id
doktersehat.com

Berita Terkini

AXA Indonesia

Inspirasi Terkait

Mohon tunggu...